Senin, 10 Oktober 2011

Perapian Rindu Part 1 (Sebuah Cerpen)

"Ra, jadi kapan nih kita rihlah lagi ke pantai?"

"Hmm, kapan ya?" aku malah berbalik bertanya pada sesosok mungil berkacamata yang duduk di sampingku.
"Lho, kok malah balik nanya sih? Ayolaaah.. I need to see a beautiful scenery. Sebelum Midtest. .ya ya ya??" rengek Lani kepadaku. Aku hanya tersenyum saja.
"By the way, kok kampus kita sepi ya?" Aku perhatikan jalanan di sekitarku. Yang terdengar hanya bunyi-bunyi aneh serangga yang bersembunyi di pepohonan. Kutatap langit dari rimbun dedaunan di atas kepala kami. Langit cerah di atas sana, aku selalu menyukai birunya. Ditambah hijau dan coklat pohon rindang yang menaungi saat itu.

"Itu karena..alam tengah berpihak pada kita, Lan.. Membiarkan kita mendengar nyanyian alam yang mungkin tengah berdoa khusyuk pada Allah."

"Mulai deh kamu, Ra.."

"Serius Lani sayaang.. Berharap aja mereka sedang berdoa supaya keinginanmu pergi ke pantai sebelum Midtest Allah kabulkan. Hehe.. "

"Ah masa sih, mana bisa begitu??"

"Maksud aku tuh, kalau kita punya keinginan..sekecil dan sesepele apapun. Cukup minta sama Allah aja.. Dia seneng kok diminta oleh hambaNya yang selalu memanjatkan doa.. Gak kayak kita, kalau diminta ajarin adik belajar, pasti deh menggerutu. Hehe.."

"Hmm. .dasar! Baiklah .. Ya Allah, hamba mohon hendakilah hamba untuk bisa menikmati indahnya lukisan pantai ciptaanMu sebelum ujian tengah semester ini.. Kabulkanlah Ya Rabb.. Dan hendakilah sahabatku yang bawel ini untuk ikut bersamaku.. Aamiin.. "

"Haha.. Aamiin.. "

"Hei, Fira! Assalammu'alaikum.. "
kudengar ada suara yang tak asing lagi memanggil dari arah belakang kami. Aku menoleh dan melihatnya berjalan mendekati kami.
Dia?? Kenapa dia ada di sini??

Top of Form

"Kak?? Kenapa kakak bisa ada di sini??"
Aku baru tersadar telah menjatuhkan handphone dan tas yang tadinya di atas pangkuanku. Begitu kagetnya, aku sontak berdiri. Nampaknya, volume suaraku meninggi, , kutengok Lani sekilas ia terlihat kaget pula.

Sosok penyebab kekagetanku berdiri beberapa langkah di depanku dengan tersenyum santai. Kuperhatikan gayanya tak berubah dari terakhir kali ku melihatnya sekitar 6 bulan lalu. Baju koko warna putih, celana blue jeans, dan tas gendong hitam yang tampak berat membebani pundaknya. Ia menundukkan tubuhnya sedikit dan meletakkan telapak tangan kanannya di dada.
"Assalammu'alaikum, tuan putri. . Hamba datang membawa kejutan."
Aku bahkan tergagap ketika menjawab salamnya.

"Wa'alaikumsalam, ,wa'alaikum salam waroh matulloh. ."

"Ahahaha. .sampai kapan kamu mau gugup terus tiap kali melihat kakakmu ini?" ia mendekat dan menepuk kepalaku lembut.

Aku mulai merasakan kedua pipiku memanas. Ya ampuun. .kenapa lagi-lagi begini, ya Rabb?? >//

"Hei, tenang, tuan putri. Kakakmu ini bukan harimau yang kelaparan. . Jangan takut gitu dong."

"Fira bukan takut,kak. .dia sering bilang kalau dia belum terbiasa dengan. .hmmph." Aku berusaha tutupi mulut Lani dengan kedua tanganku.

"Lanii. ."
Kenapa Lani malah berkata-kata yang aneh?

"Tuan putri kok kasar sama sahabatnya sendiri? Hmm, ayo deh, kita pulang, nanti kakak jelasin kenapa kakak ada di sini."

Aku lepaskan kedua tanganku, Lani hanya cengar-cengir. Aku benar-benar speechless. --"

Lani membantuku mengambilkan tas dan handphoneku yang terjatuh.
Ah, kedatangannya memberi kenangan segaris goresan di bagian punggung handphoneku.

"Ya udah, aku pulang ya Lan. .nanti aku SMS. .assalammu'alaikum." ucapku singkat dengan senyuman singkat pula untuk Lani. Lalu aku berjalan menjauhi mereka tanpa menoleh ke belakang. Namun sayup-sayup masih kudengar ucapan Lani pada Kak Ridho . "Hm. .tuan putrinya marah,tuh Kak. ."

"Tenang,biar aku yang urus dia."
Kak Ridho pamit, dan sepertinya dia lari mengejar langkahku,mungkin.

Aku terengah karena langkahku yang begitu cepat. Kaget. Feeling so surprised. Itu mungkin yang membuatku tak ingin untuk sekedar menoleh ke belakang.
                Apa dia mengikutiku?
                “Fira! What’s going on? Did I make a mistake?” ia merengkuh tangan kiriku. Dan mau tak mau, tubuhku kini berhadapan dengannya. Aduh, ini masih di area kampus, tepatnya di Parking Area, banyak orang dan sebagian dari mereka memperhatikan kami, meski sambil lalu. Aah, terbaca olehku tulisan di dalam balon-balon yang terbang di atas kepala mereka. Kurang lebih seperti ini yang kubaca :
“ Wah, asyik nih, ada adegan kejar-kejaran ala sinetron percintaan di lapangan parkir!”
Atau mungkin beda halnya dengan seorang mahasiswi yang menatap kami dengan mengangkat halis sebelah kanannya:
“Dibilang bule nyasar juga mereka gak kelihatan seperti bule SAMA SEKALI..sok bule banget sih bahasanya?!”

Asatgfirullah.. Suudzonku kumat. Pikiran aneh-aneh dan tak jelas seperti itu kerap sekali muncul ketika aku tengah panik setengah mati…ups, hidup!
Teringat waktu dulu SMA, ada seorang kakak yang memberi  tips jitu menghilangkan kepanikan ataupun kegelisahan hanya dalam lima detik saja. Dan itu sering ngefek buatku. Pejamkan mata (satu detik), tarik nafas dalam-dalam dari hidung (2 detik), dan lepaskan melalui mulut sambil membuka mata (2 detik).
Fiuuh…plong rasanya.

“Ehem,” aku berdeham memecah kebisuan di antara kami, di tengah kebisingan khas area parkir.
“Ehem juga,” ia mulai bercanda, dan ekspresi mukanya yang semula terheran-heran kini tersenyum jahil padaku.
Tetap seperti itu, tak pernah berubah. Seorang kakak yang jahil. Karena aku telah memutuskan untuk  berperang bisu, aku pergi saja. Menyebrangi jalan di depan area parkir dan menaiki Angkutan Kota yang tengah berhenti menunggu penumpang.

“Tak pernah terlintas di benakku… saat pertama kita bertemu..
Sesuatu yang indah..tumbuh dalam gundah..harum dan merekah..”

Kudapati lantunan lirik tersebut ketika kucoba alihkan perhatianku dengan mendengarkan radio dari handphoneku. Sekaligus memastikan handphoneku baik-baik saja setelah terkena benturan ringan tadi.
Ada yang aneh terasa ketika mulai kudengarkan lirik-lirik selanjutnya. Hm, mungkin dulu ketika Dude Herlino dan  Asmirandah duet menyanyikan salah satu Original Soundtrack dari sebuah film tersebut , tak pernah terlintas dari benak mereka berdua.. bahwa saat pertama mereka bertemu menentukan pertemuan-pertemuan selanjutnya, hingga terjalinlah kisah cinta itu. Entahlah, itu hanya selintingan informasi yang kudapat dari televisi.

“…tulus hatimu buka mataku…tegar jiwamu hapus raguku..”
Terkadang aku iri kepada para penyair itu.. Darimana inspirasi datang menghampiri mereka, hingga para penikmat syair mengulang-ulang dan mengingat-ingat setiap bait syairnya.
Ambisi terbesar dalam hidupku memang ingin menjadi seorang penulis…penulis apapun itu. Yang jelas, aku ingin ‘abadi’kan seluruh hidupku dalam bentuk tulisan. Meskipun ya..itu hanya ambisi dan mimpi belaka. Tak pernah ada kemajuan hingga kini. Hhehe..

Tapi kok, rasanya ada gelagat mencurigakan dari penumpang lain yang duduk di dalam angkot yang sama denganku. Apa jilbabku miring? Atau ada kotoran di mukaku? Mengapa tatapan mereka seperti itu ya? Aku hanya mampu bertanya-tanya tanpa tahu jawabnya. Sampai akhirnya, seorang siswa berseragan SMP yang duduk di samping kiriku menyentuh tas dalam pangkuanku. Eits, kok berani amat ini anak sekolahan mencopet di tempat umum tanpa strategi mencopet yang tepat?! Aku mulai menarik tas gendongku ke pelukan dan mulutku hendak berucap untuk menegur dan menasehatinya. Namun, di saat bersamaan aku membuka mulutku, AKU MELIHATNYA.
Seorang pengendara motor tepat di belakang angkot yang aku tumpangi, tanpa helm, berulang memencet sesuatu dari bagian motornya, dan berulang kali pula melambaikan tangannya. Ketika mengetahui bahwa aku menyadari kehadirannya, ia nampak sumringah.
HAH?!
Kupandangi lagi penumpang lain yang rupanya tak melepaskan pandangan mereka dariku dan si pengendara motor  secara bergantian. Dua orang yang nampaknya sepasang teman akrab, berbisik-bisik dan kulihat mereka tertawa cekikikan. KULIHAT ? Bukannya tertawa itu didengar ya?
OH, Tidak.. aku lepaskan kedua earphone yang tengah menutup rapi kedua telingaku. Kutinggalkan dengan tergesa Bunga-Bunga Cinta milik Dude dan Asmirandah.
TIDIIIT…TIDIITT…
Aah, berisiknya suara klakson yang terus saja diperdengarkan oleh si pengendara motor.
Kutengok si anak SMP yang nampak bingung . Bagus sekali, Safira . Hari ini, dalam kurun waktu kurang dari satu jam, dirimu telah ber negative thinking ria terhadap orang-orang tak bersalah di sekitarmu.

“Stop depan, Bang!”
Aku segera turun dari angkot, menunduk malu, bahkan sebelum diperingatkan untuk menundukkan kepala oleh Pak Sopir  agar tak terjedod pintu angkot.
Menyerahkan ongkos dan segera berjalan ke tepi jalan. Sungguh tak bisa kugambarkan perasaanku saat itu. Sungguh nano-nano rasanya.
Aku terdiam saja berdiri di tepian jalan, padahal sang pengendara motor sedang mendekat. Lalu berhenti di sampingku. Aku terus saja menundukkan kepalaku. Sambil memohon ampunan dari-Nya, plus sambil bertanya-tanya dalam diri. Kenapa?
Kucoba tenangkan hati..
Jangan marah, Safira.. jangan marah.
“Hei, tuan putri?” ia menyapa—atau bertanya?—dengan nada yang tak kumengerti. Selalu begini..selalu. Tak pernah damai ketika bersamanya.
“Yuk pulang, Kak..” sahutku pelan, tanpa menoleh padanya dan berjalan ke arah jok belakang motornya, lalu duduk di sana, “pakai helm-nya, Kak..” tambahku.
Kak Ridho mulai menyalakan mesin motor dan memakai helmya.
Lalu motor melaju kencang, berlomba dengan angin siang yang tak lagi panas. Sore segera tiba.
Sayup-sayup kudengar adzan Ashar dari pemukiman yang kami lewati. Tak terhitung berapa kali banyaknya aku menghela nafas.. Lagi-lagi kebisuan di antara kami berdua, di tengah kebisingan jalanan dan aktivitas masyarakat yang kami lewati. Dan rasanya takkan pernah kulupa suara klakson motor yang berhasil membawaku pulang dengan motor yang sama. . Sungguh hari yang aneh..
Nampaknya akan banyak penjelasan sesampainya di rumah nanti..

-To be continued-


Mohon komentarnya... ^^